Senin, 27 April 2009

Khutbah Facebook

Khutbah Facebook

Oleh Hamidin Krazan

Saudara seiman dalam layar lintas ruang waktu dengan segala suasana yang tengah menyelimutinya. Iman sebuah pasword yang menjadi kunci bagi hamba untuk mengakses sekaligus menuai janji Allah. Iman juga sebuah kunci pintu beribu daun yang dapat dimasuki darimanapun dan kapan saja oleh sesama hamba asal yang bersangkutan telah mencantumkan kunci sakral itu dalam dirinya.

Kunci iman terdiri dari enam anak kuci. Tiap-tiap anak kunci memiliki fungsi akses yang menyatu dalam satu jaringan agung sehingga menjadikan serpihan hidup dari semua makhluk dapat terpadu dalam kuasa-Nya. Setiap anak kunci tidak berdiri sendiri. Melainkan sebuah kunci kombinasi. Kunci iman kepada Allah, Iman kepada Malaikat Allah, Iman kepada kitab Allah, Iman kepada Rasul Allah, Iman kepada hari Akhir, Iman kepada takdir.

Hamba yang mempercayai adanya Allah, adalah hamba yang yakin dalam akting kehidupan detik, sekond atau lebih cepat dari itu selalu terpantau CCTV-Nya yang dioperatori sang malaikat Rakib dan Atid. Skrip dan rekaman segala adegan keaktoran di panggung dunia ini terpantau dalam deteksi maha layarnya.

Hal-hal kebaikan dari helaan nafas hingga ujung (maaf) jigong yang tersisa saat seorang hamba buang hajat, semua terpantau malaikat Rakib dan Atid. Masalahnya, apakah hasil rekaman itu nantinya masuk ke dalam layar pilihan dengan durasi tertentu atau no limit? Alias hidup langgeng. Atau banyak adegan hidup yang justru masuk dalam ruang edit sehingga memenuhi ruang sensor malaikat Atid? Jika begitu hasil rekam hidup seorang hamba itu masuk kategoti raport merah. Terkait itu, dalam jajaran malaikat ada Munkar dan Nakir. Mereka hamba Allah yang patuh menjaga area reward dan punishment berupa syurga dan neraka. Jika raport merah apa akibatanya?

Lantas, bagaimana agar akting seorang hamba bisa lurus meski dirinya tengah atau selalu mengarungi jalan berkelok dan penuh duri di antara belukar? Atau sebaliknya ketika hamba itu justru berada di hamparan kemewahan sehingga dia lupa cara membuat dirinya merasakan sedih, akibat terlampau glamournya. Tentu saja jalan itu sudah diberikan rambu-rambu oleh sang Nabi dengan kitab yang dijadikan pedoman ajaran agama yang diyakininya. Mengapa seorang yang selalu sedih harus berharap dan berdoa agar hidupnya menjadi lebih baik, jika tidak mendapatkannya di dunia, kelak akan ada balasan ketika di akhirat.

Yakin adanya balasan kebaikan di lain saat dengan doorprize yang belum tampak wujudnya itulah, daya iman --adanya qodho dan qadar Allah-- dari seorang hamba teruji. Sebab kebaikan, kebahagiaan tidak semuanya tertumpah di dunia. Kapan seorang hamba merasakan jatah itu, baik sekarang atau kelak. Untuk menekan hawa nafsu yang kadang memaksa keinginan hamba dengan segala sesuatu yang serba instan itu, maka bagi hamba yang beriman punya resep takdir dan hari akhir. Melalui iman kepada takdir Allah, seorang hamba tidak akan semata-mata memandang nasib buruk di dunia itu benar-benar buruk. Sebaliknya kehidupan gemah ripah seseorang itu sebuah jaminan kebahagiaan dirinya. Itulah rahasia takdir.

Terpikirkah? Kelak di hari akhir, setelah terjadi hari pemusnahan, kemudian ada hari kebangkitan. Dimana pada hari itu ada suatu tempat sebagai arena dikumpulkannya bekas manusia (entah dalam bentuk apa). Semuanya bangkit dengan bentuk yang memiliki serba wajah.

Kemudian Allah membuka sebuah layar agungnya. Di layar itu akan mencantumkan identitas hamba dengan wajah-wajah tertentu yang notabene masuk dalam daftar sekutu Allah. Yakni hamba yang tergabung dalam group Iman kepada-Nya dalam jaringan semacam Facebook Allah…? Sudahkan kita menjadi anggota jaringan yang diridhoi-Nya? Wallahu ‘Alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar